Tak perlu keliling dunia, Nikmati warna-warni Australia

May 8th, 2009 by lailinur

dscf36021

Sebelumnya saya sudah  tahu bahwa Australia adalah negara multicultural. Namun saya tidak menyangka Australia benar-benar negara high level multicultural.  Kejutan pertama ketika kami (empat delagasi perempuan Indonesia) tiba di Melbourne hampir jam 11.00 malam. Melbourne masih sangat ramai. Takjub  sekali menyaksikan mereka yang mondar-mandir karena betapa warna-warninya mereka, ada yang berkulit putih, putih sekali, coklat, hitam dan hitam sekali.

Seperti telah saya urai pada tulisan sebelumnya bahwa hampir seluruh penduduk Australia adalah imigran yang datang dari hampir 200 negara. Penduduk aslinya adalah Aborigin. Secara umum keberagaman mereka dapat kategorikan dalam tiga bagian. Imigran dari Eropa yang datang pada tahun 50-an dan 60-an yang saat ini tetap eksis hingga generasi ketiga. Sementara imigran dari Asia yang masuk ke Australia pada tahun 70-an dan 80-an telah melahirkan generasi kedua. Yang belakangan hadir mewarnai Australia adalah imigran dari Timur Tengah dan Afrika yang generasi mudanya rata-rata lahir di negara asal mereka. Mereka semua diberi kebebasan untuk menjalani hidup  sesuai dengan keselarasan budaya asli mereka. Namun tetap dalam kerangka toleransi dan saling menghormati.

Kejutan selanjutnya saat malam pertama di Sydney 8 April 2009 kami makan malam di Uyghur Restaurant Chinatown. Meyusuri keramaian Chinatown, seakan kami tidak sedang di Australia, tapi sedang di China atau Hongkong. Betapa tidak, semua yang lalu lalang adalah orang (asal atau keturunan) China. Kehadiran etnis lain di sepanjang jalan itu seperti sekedar pelancong yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Segala kebutuhan hidup dan budaya China tersedia disitu. Tidak terkecuali toko-toko yang memajang baju-baju modist dan trendy yang pasti made in China. Buat kita orang Indonesia, berbelanja di Chinatown bisa membuat lupa daratan karena selain harganya murah, ukurannya pas buat kita orang asia. Kalau ukuran orang eropa atau timur tengah, biasanya kedodoran. 

Kondisi serupa kami temui di Auburn Sydney.  Di kota ini kami  menemui organisasi pemuda ICRA Youth Centre Inc. Untuk menemukan alamat kantornya, sampai kelelahan kami mencarinya.  Tapi dengan demikian kami punya alasan untuk melihat-lihat Auburn yang Timur Tengah banget.  Kalau ingin belajar bahasa Arab, silahkan tinggal  di kota ini.  Berbagai model gamis ada di Auburn dan segala jenis makanan Timur Tengah bisa dilahap disini. Setelah sholat jumat di masjid terbesar di Australia, Gallipoli Mosque, usai, restoran-restoran penuh oleh mereka yang akan makan siang. Selagi kami menunggu makanan pesanan, sejenak saya menebar pandangan ke sekeliling. Ah…..benarkah kita di Australia? Hampir tidak ada rambut pirang disini. Yang ada orang-orang dari Pakistan, Afganistan, Iran, Turki, Lebanon, Marocco, dan negara Timur Tengah lainnya.

Kalau ingin berbelanja di pasar ala Vietnam, datang saja ke Little Saigon Footscray Melbourne. Pasar ini sangat berisik karena cara mereka menawarkan dagangannya dengan berteriak-teriak, mungkin  khas Vietnam. Rupa-rupa bahan masakan Vietnam dijual di pasar ini. Mereka berbahasa Inggris hanya dengan orang dari etnis lain, kalo sesama mereka hanya bahasa Vietnam yang terdengar.   Namun kalau rindu mendengar percakapan bahasa Indonesia, singgah saja di Lakemba Sydney. Komunitas Indonesia banyak ber”pengajian” disitu.

Memang, sebagian penduduk Australia hidup berkelompok dengan komunitasnya berdasarkan negara asalnya. Dengan demikian, meskipun mereka di Australia, namun tidak perlu mengubur budaya dan adat istiadatnya. Mereka boleh memboyong apapun dari negara asalnya untuk kenyamanan eksisitensi identitas mereka.  Bukti ini kami tangkap ketika di Melbourne, Fatih Erol seorang Turkish yang menjadi pemandu kami sering memperdengarkan lagu-lagu Turki  di mobilnya selama perjalanan. Demikian juga ketika bersama Marwah yang berdarah Arab. Dia mempertontonkan banyak sekali koleksi CD lagu-lagu Timur Tengah.  Zubaedah, pemandu yang berasal dari Fiji, selama perjalanan di Sydney menghibur kami dengan Bholecuria….bholekanjena, hai-hai yo gaya…..(India maksudnya, maklum kalo salah tulis)

So, ingin belajar bahasa asing? cobalah Australia, karena bahasa yang paling banyak digunakan di Australia adalah English, Italian, Greek, Cantonese, Arabic, Mandarin and Vietnamese. Mau tahu kebudayaan dan tari-tarian berbagai negara? Australia cukup representative. Ingin memanjakan lidah dengan masakan-masakan dari 200 negara, rasakan Australia. Berhasrat  menikmati warna-warni dunia? Australia jawabannya. (Laili Nur Farida, Community Based Disaster Risk Manajemen of Nahdlatul Ulama)

Pertukaran Tokoh Muda Muslim Indonesia-Australia Dua Minggu, tapi Komplit

April 19th, 2009 by lailinur

Ketika menyerahkan berkas lamaran untuk mengikuti program Pertukaran Tokoh Muda Muslim Indonesia-Australia ke Universitas Paramadina 8 Januari 2009, saya merasa yakin akan lulus mengarungi proses seleksi program ini. Namun penantian panggilan interview yang tak kunjung datang, membuat rasa optimis tergerus. Rabu 4 Februari 2009 ahirnya saya termasuk bagian dari 25 peserta seleksi yang dipanggil untuk interview. Keluar dari ruang interview, tidak ada pilihan lain selain pasrah menanti takdir, karena saya menyadari, tidak mudah bersaing dengan hampir dua ratus peserta pelamar program ini yang tentu mereka memiliki kualitas yang pantas dikagumi. Tapi lulus atau tidak, saya tetap bersyukur karena telah mendapat kesempatan berdiskusi dengan Profesor Philip Knight seorang Principal Fellow in the Asia Institute the University of Melbourne, Prof. Virginia Hooker Board Member Australia-Indonesia Institute dan Professor of Indonesian and Malay in the Faculty of Asian Studies the Australia National University serta Rowan Gould, Director Australia-Indonesia Muslim Exchange Program. Satu bulan kemudian, di suatu siang 6 Maret 2009, saya berteriak girang, karena kabar bahwa saya adalah salah satu dari sepuluh peserta Pertukartan Tokoh Muda Muslim Indonesia-Australia.

Dua minggu berada di Australia (29 Maret – 12 April 2009) benar-benar menjadi hari-hari yang mengesankan meski ini adalah pengalaman kedua saya keluar negeri setelah ke United Kingdom tahun lalu untuk Program Short Course di University of Leeds. Satu minggu pertama dihabiskan di Melbourne dan minggu kedua di Adelaide dan Sydney. Sangat melelahkan tapi kami (Mujahidah Samarinda, Laili Jakarta, Herawati Lombok, dan Sarah Yogyakarta) sangat menikmati karena dalam satu hari kami bisa berdiskusi dengan 6 – 7 organisasi, pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan (non-government organization). Organisasi tersebut diantaranya Islamic Council of Victoria, Aboriginal ‘Maya’ Healing Centre, Victoria Police Centre, Islamic Women’s Welfare Council of Victoria, Center for Multicultural Youth, Spectrum Migrant Resource Centre, Muslim Women Association, Affinity Intercultural Foundation, Amnesty International, Muslim Women’s National Network of Australia, Auburn Migrant Resource Centre, Jewish Christian Muslim Association of Australia, Mr. Hieu Van Le (Lieutenant Governor of South Australia and Chairman of the South Australian Multicultural and Ethnic Affair Commission) dan beberapa organisasi lainnya.

Perbincangan kami berkisar tentang multikulturalisme, dialog antar agama (interfaith), dan kontribusi mereka terhadap pembangunan Australia. Multikulturalisme menjadi issu penting untuk ditanggapi karena sebagian besar penduduk Australia adalah imigran atau bernenek moyang imigran yang berasal dari lebih 200 negara. Menjadi persolan yang tidak mudah bagi Australia untuk mendorong negaranya kearah harmoni kedamaian karena mereka (imigran) datang ke Australia dengan membawa budaya negara asal mereka. Namun, faktanya, Australia bisa. Jadilah Australia sebagai Negara dengan budaya 200 negara. Asyik sekali. Mereka juga menimba banyak hal tentang Indonesia, Islam Indonesia yang moderat hususnya, dari kami.

Kami juga mengecap pengalaman diskusi dengan kalangan akademisi diantaranya Professor Tim Lindsey, Director Asian Law Centre the University of Melbourne dan juga Chair Australia Indonesia Institute; Larry Marshall, Project Officer Centre for Dialogue La Trobe University; Professor Abdullah Saeed, Director National Centre Of Excellence For Islamic Studies The University of Melbourne; Alia Imtoual, Dosen Schooll Of Education The Flinders University; Dan Nasya Bahfen, Lecturer in Journalism RMIT University. Dosen yang terakhir ini adalah asli perempuan Indonesia. Bangga juga saya padanya meskipun Nasya lebih banyak dibesarkan di Australia. Explorasi dunia kampus yang paling menegangkan adalah saat kami harus menjadi nara sumber di arena dialog public Melbourne University tentang “The Role of Islamic Civil Society Organizations in Building Indonesia Democracy”. Alhamdulillah dialog berjalan dengan lancar selancar ketika kami diwawancarai ABC Radio.

Gereja tertua di Melbourne St. Patrick Cathedral, Uniting Church, Synagogue dengan ritual Shabbat dan tentu beberapa masjid tidak ketinggalan kami kunjungi. Bahkan kami yang sempat menyaksikan ritual Shabbat umat Yahudi menemukan ada kesamaan ritual ibadah antara Yahudi dan Islam. Tidak sangat mengherankan, karena Islam, Yahudi, dan kristen adalah agama samawi (agama wahyu) atau mereka menyebut sebagai agama Ibrahim. Project Ibrahim juga kami temui ketika bertandan ke Islamic College of South Australia. Di sekolah tersebut dipajang kitab-kitab suci dan pakaian ibadah dari tiga agama Ibrahim. Diharapkan dengan saling memahami, siswa dapat saling menghormati antar pemeluk agama lain. Diskusi dengan siswa terjadi pula di Methodist Ladies College. Disini banyak muncul pertanyaan-pertanyaan dari siswa yang tidak kami duga seperti apakah kami mengikuti tren gaya rambut dan peristiwa bom bali.

Indonesia-Australia Institute tentu tidak akan membuat kami mabuk diskusi, sehingga jalan-jalan ke berbagai tempat rekreasi dan restoran mengisi deretan acara kami. Mujahidah berkali-kali memelototi foto mesranya berpelukan dengan koala di Cleland Wildlife Park, Sarah berpose foto yang ke 435 di depan Opera House, Herawati menghabiskan koin dolar terakhirnya di Paddy’s Market Sydney, sedangkan saya, Laili hampir pasti kekenyangan karena malahap big lunch atau dinner di berenaka ragam restoran; India, Pakistan, Labanon, Turki, Itali, Maroko, Thailand, Malaysia, dan Indonesia yang tetap terfavorit. So, meskipun hanya dua minggu, tapi pengalaman kami komplit layaknya jamu STMJ Komplit buatan asli Indonesia yang bisa Anda dapatkan juga di Australia. Mengikuti program ini, benar-benar rahmat yang tidak akan pernah saya sesali. (ditulis oleh Laili Nur Farida, Project Officer Community Based Disaster Risk Reduction Nahdlatul Ulama, Jakarta)

April 19th, 2009 by lailinur


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”Berlin Sans FB Demi”; panose-1:2 14 8 2 2 5 2 2 3 6; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {mso-style-priority:99; mso-style-link:”Footer Char”; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 234.0pt right 468.0pt; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} span.FooterChar {mso-style-name:”Footer Char”; mso-style-priority:99; mso-style-unhide:no; mso-style-locked:yes; mso-style-link:Footer; mso-ansi-font-size:11.0pt; mso-bidi-font-size:11.0pt;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:35.4pt; mso-footer-margin:35.4pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Pertukaran Tokoh Muda Muslim Indonesia-Australia

Dua Minggu, tapi Komplit

Ketika menyerahkan berkas lamaran untuk mengikuti program Pertukaran Tokoh Muda Muslim Indonesia-Australia ke Universitas Paramadina 8 Januari 2009, saya merasa yakin akan lulus mengarungi proses seleksi program ini. Namun penantian panggilan interview yang tak kunjung datang, membuat rasa optimis tergerus. Rabu 4 Februari 2009 ahirnya saya termasuk bagian dari 25 peserta seleksi yang dipanggil untuk interview. Keluar dari ruang interview, tidak ada pilihan lain selain pasrah menanti takdir, karena saya menyadari, tidak mudah bersaing dengan hampir dua ratus peserta pelamar program ini yang tentu mereka memiliki kualitas yang pantas dikagumi. Tapi lulus atau tidak, saya tetap bersyukur karena telah mendapat kesempatan berdiskusi dengan Profesor Philip Knight seorang Principal Fellow in the Asia Institute the University of Melbourne, Prof. Virginia Hooker Board Member Australia-Indonesia Institute dan Professor of Indonesian and Malay in the Faculty of Asian Studies the Australia National University serta Rowan Gould, Director Australia-Indonesia Muslim Exchange Program. Satu bulan kemudian, di suatu siang 6 Maret 2009, saya berteriak girang, karena kabar bahwa saya adalah salah satu dari sepuluh peserta Pertukartan Tokoh Muda Muslim Indonesia-Australia.

Dua minggu berada di Australia (29 Maret – 12 April 2009) benar-benar menjadi hari-hari yang mengesankan meski ini adalah pengalaman kedua saya keluar negeri setelah ke United Kingdom tahun lalu untuk Program Short Course di University of Leeds. Satu minggu pertama dihabiskan di Melbourne dan minggu kedua di Adelaide dan Sydney. Sangat melelahkan tapi kami (Mujahidah Samarinda, Laili Jakarta, Herawati Lombok, dan Sarah Yogyakarta) sangat menikmati karena dalam satu hari kami bisa berdiskusi dengan 6 – 7 organisasi, pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan (non-government organization). Organisasi tersebut diantaranya Islamic Council of Victoria, Aboriginal ‘Maya’ Healing Centre, Victoria Police Centre, Islamic Women’s Welfare Council of Victoria, Center for Multicultural Youth, Spectrum Migrant Resource Centre, Muslim Women Association, Affinity Intercultural Foundation, Amnesty International, Muslim Women’s National Network of Australia, Auburn Migrant Resource Centre, Jewish Christian Muslim Association of Australia, Mr. Hieu Van Le (Lieutenant Governor of South Australia and Chairman of the South Australian Multicultural and Ethnic Affair Commission) dan beberapa organisasi lainnya.

Perbincangan kami berkisar tentang multikulturalisme, dialog antar agama (interfaith), dan kontribusi mereka terhadap pembangunan Australia. Multikulturalisme menjadi issu penting untuk ditanggapi karena sebagian besar penduduk Australia adalah imigran atau bernenek moyang imigran yang berasal dari lebih 200 negara. Menjadi persolan yang tidak mudah bagi Australia untuk mendorong negaranya kearah harmoni kedamaian karena mereka (imigran) datang ke Australia dengan membawa budaya negara asal mereka. Namun, faktanya, Australia bisa. Jadilah Australia sebagai Negara dengan budaya 200 negara. Asyik sekali. Mereka juga menimba banyak hal tentang Indonesia, Islam Indonesia yang moderat hususnya, dari kami.

Kami juga mengecap pengalaman diskusi dengan kalangan akademisi diantaranya Professor Tim Lindsey, Director Asian Law Centre the University of Melbourne dan juga Chair Australia Indonesia Institute; Larry Marshall, Project Officer Centre for Dialogue La Trobe University; Professor Abdullah Saeed, Director National Centre Of Excellence For Islamic Studies The University of Melbourne; Alia Imtoual, Dosen Schooll Of Education The Flinders University; Dan Nasya Bahfen, Lecturer in Journalism RMIT University. Dosen yang terakhir ini adalah asli perempuan Indonesia. Bangga juga saya padanya meskipun Nasya lebih banyak dibesarkan di Australia. Explorasi dunia kampus yang paling menegangkan adalah saat kami harus menjadi nara sumber di arena dialog public Melbourne University tentang “The Role of Islamic Civil Society Organizations in Building Indonesia Democracy”. Alhamdulillah dialog berjalan dengan lancar selancar ketika kami diwawancarai ABC Radio.

Gereja tertua di Melbourne St. Patrick Cathedral, Uniting Church, Synagogue dengan ritual Shabbat dan tentu beberapa masjid tidak ketinggalan kami kunjungi. Bahkan kami yang sempat menyaksikan ritual Shabbat umat Yahudi menemukan ada kesamaan ritual ibadah antara Yahudi dan Islam. Tidak sangat mengherankan, karena Islam, Yahudi, dan kristen adalah agama samawi (agama wahyu) atau mereka menyebut sebagai agama Ibrahim. Project Ibrahim juga kami temui ketika bertandan ke Islamic College of South Australia. Di sekolah tersebut dipajang kitab-kitab suci dan pakaian ibadah dari tiga agama Ibrahim. Diharapkan dengan saling memahami, siswa dapat saling menghormati antar pemeluk agama lain. Diskusi dengan siswa terjadi pula di Methodist Ladies College. Disini banyak muncul pertanyaan-pertanyaan dari siswa yang tidak kami duga seperti apakah kami mengikuti tren gaya rambut dan peristiwa bom bali.

Indonesia-Australia Institute tentu tidak akan membuat kami mabuk diskusi, sehingga jalan-jalan ke berbagai tempat rekreasi dan restoran mengisi deretan acara kami. Mujahidah berkali-kali memelototi foto mesranya berpelukan dengan koala di Cleland Wildlife Park, Sarah berpose foto yang ke 435 di depan Opera House, Herawati menghabiskan koin dolar terakhirnya di Paddy’s Market Sydney, sedangkan saya, Laili hampir pasti kekenyangan karena malahap big lunch atau dinner di berenaka ragam restoran; India, Pakistan, Labanon, Turki, Itali, Maroko, Thailand, Malaysia, dan Indonesia yang tetap terfavorit. So, meskipun hanya dua minggu, tapi pengalaman kami komplit layaknya jamu STMJ Komplit buatan asli Indonesia yang bisa Anda dapatkan juga di Australia. Mengikuti program ini, benar-benar rahmat yang tidak akan pernah saya sesali. (ditulis oleh Laili Nur Farida, Project Officer Community Based Disaster Risk Reduction Nahdlatul Ulama, Jakarta)

April 19th, 2009 by lailinur


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”Berlin Sans FB Demi”; panose-1:2 14 8 2 2 5 2 2 3 6; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {mso-style-priority:99; mso-style-link:”Footer Char”; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 234.0pt right 468.0pt; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} span.FooterChar {mso-style-name:”Footer Char”; mso-style-priority:99; mso-style-unhide:no; mso-style-locked:yes; mso-style-link:Footer; mso-ansi-font-size:11.0pt; mso-bidi-font-size:11.0pt;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:35.4pt; mso-footer-margin:35.4pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”Berlin Sans FB Demi”; panose-1:2 14 8 2 2 5 2 2 3 6; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {mso-style-priority:99; mso-style-link:”Footer Char”; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 234.0pt right 468.0pt; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} span.FooterChar {mso-style-name:”Footer Char”; mso-style-priority:99; mso-style-unhide:no; mso-style-locked:yes; mso-style-link:Footer; mso-ansi-font-size:11.0pt; mso-bidi-font-size:11.0pt;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:35.4pt; mso-footer-margin:35.4pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Pertukaran Tokoh Muda Muslim Indonesia-Australia

Dua Minggu, tapi Komplit

Ketika menyerahkan berkas lamaran untuk mengikuti program Pertukaran Tokoh Muda Muslim Indonesia-Australia ke Universitas Paramadina 8 Januari 2009, saya merasa yakin akan lulus mengarungi proses seleksi program ini. Namun penantian panggilan interview yang tak kunjung datang, membuat rasa optimis tergerus. Rabu 4 Februari 2009 ahirnya saya termasuk bagian dari 25 peserta seleksi yang dipanggil untuk interview. Keluar dari ruang interview, tidak ada pilihan lain selain pasrah menanti takdir, karena saya menyadari, tidak mudah bersaing dengan hampir dua ratus peserta pelamar program ini yang tentu mereka memiliki kualitas yang pantas dikagumi. Tapi lulus atau tidak, saya tetap bersyukur karena telah mendapat kesempatan berdiskusi dengan Profesor Philip Knight seorang Principal Fellow in the Asia Institute the University of Melbourne, Prof. Virginia Hooker Board Member Australia-Indonesia Institute dan Professor of Indonesian and Malay in the Faculty of Asian Studies the Australia National University serta Rowan Gould, Director Australia-Indonesia Muslim Exchange Program. Satu bulan kemudian, di suatu siang 6 Maret 2009, saya berteriak girang, karena kabar bahwa saya adalah salah satu dari sepuluh peserta Pertukartan Tokoh Muda Muslim Indonesia-Australia.

Dua minggu berada di Australia (29 Maret – 12 April 2009) benar-benar menjadi hari-hari yang mengesankan meski ini adalah pengalaman kedua saya keluar negeri setelah ke United Kingdom tahun lalu untuk Program Short Course di University of Leeds. Satu minggu pertama dihabiskan di Melbourne dan minggu kedua di Adelaide dan Sydney. Sangat melelahkan tapi kami (Mujahidah Samarinda, Laili Jakarta, Herawati Lombok, dan Sarah Yogyakarta) sangat menikmati karena dalam satu hari kami bisa berdiskusi dengan 6 – 7 organisasi, pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan (non-government organization). Organisasi tersebut diantaranya Islamic Council of Victoria, Aboriginal ‘Maya’ Healing Centre, Victoria Police Centre, Islamic Women’s Welfare Council of Victoria, Center for Multicultural Youth, Spectrum Migrant Resource Centre, Muslim Women Association, Affinity Intercultural Foundation, Amnesty International, Muslim Women’s National Network of Australia, Auburn Migrant Resource Centre, Jewish Christian Muslim Association of Australia, Mr. Hieu Van Le (Lieutenant Governor of South Australia and Chairman of the South Australian Multicultural and Ethnic Affair Commission) dan beberapa organisasi lainnya.

Perbincangan kami berkisar tentang multikulturalisme, dialog antar agama (interfaith), dan kontribusi mereka terhadap pembangunan Australia. Multikulturalisme menjadi issu penting untuk ditanggapi karena sebagian besar penduduk Australia adalah imigran atau bernenek moyang imigran yang berasal dari lebih 200 negara. Menjadi persolan yang tidak mudah bagi Australia untuk mendorong negaranya kearah harmoni kedamaian karena mereka (imigran) datang ke Australia dengan membawa budaya negara asal mereka. Namun, faktanya, Australia bisa. Jadilah Australia sebagai Negara dengan budaya 200 negara. Asyik sekali. Mereka juga menimba banyak hal tentang Indonesia, Islam Indonesia yang moderat hususnya, dari kami.

Kami juga mengecap pengalaman diskusi dengan kalangan akademisi diantaranya Professor Tim Lindsey, Director Asian Law Centre the University of Melbourne dan juga Chair Australia Indonesia Institute; Larry Marshall, Project Officer Centre for Dialogue La Trobe University; Professor Abdullah Saeed, Director National Centre Of Excellence For Islamic Studies The University of Melbourne; Alia Imtoual, Dosen Schooll Of Education The Flinders University; Dan Nasya Bahfen, Lecturer in Journalism RMIT University. Dosen yang terakhir ini adalah asli perempuan Indonesia. Bangga juga saya padanya meskipun Nasya lebih banyak dibesarkan di Australia. Explorasi dunia kampus yang paling menegangkan adalah saat kami harus menjadi nara sumber di arena dialog public Melbourne University tentang “The Role of Islamic Civil Society Organizations in Building Indonesia Democracy”. Alhamdulillah dialog berjalan dengan lancar selancar ketika kami diwawancarai ABC Radio.

Gereja tertua di Melbourne St. Patrick Cathedral, Uniting Church, Synagogue dengan ritual Shabbat dan tentu beberapa masjid tidak ketinggalan kami kunjungi. Bahkan kami yang sempat menyaksikan ritual Shabbat umat Yahudi menemukan ada kesamaan ritual ibadah antara Yahudi dan Islam. Tidak sangat mengherankan, karena Islam, Yahudi, dan kristen adalah agama samawi (agama wahyu) atau mereka menyebut sebagai agama Ibrahim. Project Ibrahim juga kami temui ketika bertandan ke Islamic College of South Australia. Di sekolah tersebut dipajang kitab-kitab suci dan pakaian ibadah dari tiga agama Ibrahim. Diharapkan dengan saling memahami, siswa dapat saling menghormati antar pemeluk agama lain. Diskusi dengan siswa terjadi pula di Methodist Ladies College. Disini banyak muncul pertanyaan-pertanyaan dari siswa yang tidak kami duga seperti apakah kami mengikuti tren gaya rambut dan peristiwa bom bali.

Indonesia-Australia Institute tentu tidak akan membuat kami mabuk diskusi, sehingga jalan-jalan ke berbagai tempat rekreasi dan rmakan di restoran mengisi deretan acara kami. Mujahidah berkali-kali memelototi foto mesranya berpelukan dengan koala di Cleland Wildlife Park, Sarah berpose foto yang ke 435 di depan Opera House, Herawati menghabiskan koin dolar terakhirnya di Paddy’s Market Sydney, sedangkan saya, Laili hampir pasti kekenyangan karena malahap big lunch atau dinner di berenaka ragam restoran; India, Pakistan, Labanon, Turki, Itali, Maroko, Thailand, Malaysia, dan Indonesia yang tetap terfavorit. So, meskipun hanya dua minggu, tapi pengalaman kami komplit layaknya jamu STMJ Komplit buatan asli Indonesia yang bisa Anda dapatkan juga di Australia. Mengikuti program ini, benar-benar rahmat yang tidak akan pernah saya sesali. (ditulis oleh Laili Nur Farida, Project Officer Community Based Disaster Risk Reduction Nahdlatul Ulama, Jakarta)

Hello world!

March 26th, 2009 by lailinur

Welcome to Myblogrepublika.com Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!